Berdamai Ternyata Bukan Tentang Melupakan
Berdamai Ternyata Bukan Tentang Melupakan
Dulu aku pikir healing berarti melupakan semuanya.
Melupakan rasa sakit.
Melupakan orang-orang yang pergi.
Melupakan malam-malam berat yang pernah aku lewati.
Aku pikir kalau aku masih mengingat semuanya, berarti aku belum benar-benar sembuh.
Jadi aku terus memaksa diriku untuk cepat “baik-baik saja”.
Aku mencoba terlihat kuat.
Mencoba pura-pura tidak peduli.
Mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya sudah selesai.
Padahal diam-diam… beberapa luka masih tinggal di dalam diri.
Dan semakin aku mencoba menghapus semuanya, semakin aku sadar:
Ada hal-hal yang memang tidak akan benar-benar hilang.
Bukan karena aku lemah.
Tapi karena beberapa hal pernah begitu berarti.
Beberapa rasa pernah terlalu dalam untuk sekadar dilupakan begitu saja.
Sampai akhirnya aku mulai mengerti sesuatu:
Berdamai ternyata bukan tentang melupakan.
Berdamai adalah saat aku bisa mengingat sesuatu tanpa hancur lagi karenanya.
Saat kenangan itu masih ada…
tapi tidak lagi mengendalikan hidupku.
Saat aku bisa berkata:
“Iya, itu pernah menyakitkan.” tanpa harus kembali tenggelam di dalamnya.
Dan proses itu tidak cepat.
Ada hari di mana aku merasa sudah baik-baik saja.
Lalu tiba-tiba satu lagu, satu tempat, atau satu malam yang terlalu sunyi membuat semuanya terasa dekat lagi.
Tapi sekarang aku tidak lagi marah pada diriku saat itu terjadi.
Karena healing bukan garis lurus.
Kadang maju.
Kadang mundur sedikit.
Kadang terasa tenang, kadang terasa berat lagi.
Dan itu manusiawi.
Aku mulai berhenti memaksa diriku untuk melupakan semuanya.
Aku cuma belajar hidup berdampingan dengan hal-hal yang pernah melukaiku tanpa membiarkannya menghancurkan diriku lagi.
Dan mungkin…
Komentar
Posting Komentar