Aku Capek Hidup di Kepala Sendiri
Aku Capek Hidup di Kepala Sendiri
Aku sadar satu hal yang paling melelahkan akhir-akhir ini:
Bukan hidupku yang terlalu berat.
Tapi pikiranku yang tidak pernah benar-benar diam.
Aku terlalu sering hidup di dalam kepala sendiri.
Memikirkan hal yang belum terjadi.
Mengulang percakapan lama.
Membayangkan kemungkinan buruk bahkan saat semuanya terlihat baik-baik saja.
Dan anehnya, semua itu terasa nyata.
Satu hal kecil bisa berubah jadi banyak skenario di pikiranku.
Satu perubahan kecil bisa membuatku bertanya-tanya semalaman.
Kadang aku sendiri tahu aku terlalu jauh berpikir.
Tapi tetap saja sulit berhenti.
Yang paling capek bukan kejadian aslinya.
Tapi bagaimana otakku terus bekerja tanpa tombol pause.
Aku iri sama orang yang bisa menjalani hidup tanpa memikirkan semuanya terlalu dalam.
Yang bisa tidur tanpa perang dengan pikirannya sendiri.
Yang bisa menikmati hari tanpa merasa dikejar sesuatu di dalam kepala.
Sementara aku…
bahkan saat sedang diam, pikiranku tetap berisik.
Dan lama-lama aku mulai kehilangan banyak hal kecil:
- tidur yang tenang
- momen yang seharusnya dinikmati
- bahkan rasa nyaman dengan diriku sendiri
Karena aku terlalu sibuk hidup di kemungkinan, bukan di kenyataan.
Sampai akhirnya aku sadar sesuatu:
Aku tidak harus mengikuti semua pikiranku.
Tidak semua ketakutan adalah fakta.
Tidak semua skenario buruk akan benar-benar terjadi.
Dan mungkin…
aku cuma terlalu lama mencoba mengontrol hal-hal yang sebenarnya tidak bisa aku kontrol.
Sekarang aku masih belajar.
Belajar untuk kembali ke hari ini.
Ke hal yang nyata.
Ke hidup yang sedang benar-benar terjadi, bukan yang cuma ada di kepala.
Karena aku capek hidup di pikiranku sendiri terus-menerus.
Aku juga ingin merasa tenang.
Walau cuma sebentar.
Komentar
Posting Komentar